-->

Iklan Atas Artikel

Harapan Besar di Hari Ulang Tahun Indonesia Ke-75

Sebagai bangsa yang besar kita sedang berhadapan dalam situasi yang labil, baik masalah ekonomi, pendidikan, sosial, dan sebagainya. Pandemi masih menghantui rakyat kecil yang hanya bisa berharap untuk memenuhi isi perut. Selama 75 tahun dalam kemerdekaan tentunya setiap pembawa kebijakan menjadi nahkoda kapal untuk rakyatnya mau dibawa kemana.

Tulisan ini adalah bagian dari suatu harapan, dan pada faktanya kemerdekaan belum bisa terbayar dengan upacara sakral setiap 17 Agustus, belum bisa terbayar dengan acara meriah yang banyak kita jumpai di setiap pelosok desa. Tak hanya itu kalau menilik lebih dalam, dan bertanya kepada hati nurani sebenarnya, rakyat masih begini saja, seolah-olah merupakan hari yang biasa saja. Masih membawa cangkul dan bekal nasi yang dimasukan ke dalam kantong plastik.

Semangat para pejuang dahulu tidak bisa terbayar dengan gembar-gembor dan narasi atau berkoar-koar bahwa "Aku masih Indonesia". Bendera agung merah putih yang terpasang masih mengharumkan rumah-rumah kecil dengan semangat kobaran dalam hati, karena mereka masih mempunyai mimpi yang besar untuk menjadi bangsa yang besar.

Kita lihat bangsa ini dengan secara sadar, kita sentuh keadaan yang sebenarnya. Kekayaan air, tanah, dan bumi apakah masih milik kita? jawabannya masih dalam hati, karena bila kontradiksi menjadi malapetaka. Memang Tuhan tidak menciptakan seseorang dengan kesempurnaan, supaya kita bisa berusaha dan berapi-api untuk menuju puncak itu. Puncak itu diciptakan dari pemikiran yang merdeka. Tidak hanya putihnya seragam, tidak hanya megahnya gedung di kota, tidak hanya menikmati jalanan yang sesak dengan aktivitas sosial.

Harapan itu kita yang kerjakan, dan perjuangkan untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan, kesehatan yang layak, sekalipun kita tidak mampu untuk berdebat dengan orang-orang yang berdasi. Jelata ya memang jelata apalah daya. 

"Kenapa masih ada korupsi?" tanya rakyat. 

"Kita serahkan kepada hukum saja, karena kita negara hukum," jawabnya.

Kadang ada sebagian masalah yang harus kita jawab dengan sesederhana itu, kadang pula membutuhkan jawaban dan tindakan yang kompleks entah hari ini, entah esok, dan entah berapa tahun lagi. Segmentasi tulisan ini hanya untuk meningkatkan nurani dan kesadaran, bahwa harapan besar di depan mata. Belajar menjadi seseorang yang mempunyai etos yang baik, dan melihat kondisi sebenarnya. Setiap yang dilakukan, akan sesuai dengan apa yang didapatnya. Jika seorang RT bekerja dengan baik, maka dia dapat apa yang dikerjakannya sebagai tuaian. Ini hanya sebuah konotasi buat kita yang belajar menyadari. Salam dari rakyat untuk sebuah harapan Indonesia maju.

LihatTutupKomentar

Iklan Tengah Artikel 2