-->

Iklan Atas Artikel

Risalah Pribadi, Batu Pertama

Risalah Pribadi, Batu Pertama


Risalah Nabi Muhammad SAW tidaklah berakhir pada rumusan-perumusan kaidah-kaidah falsafah yang universal dan abstrak, yang dilepaskan mengapung di awang-awang untuk dilihat dan dikagum-kagumi, atau dalil-dalil teologi untuk dikunyah-kunyah sambil duduk. Tujuan risalah adalah untuk menghidup-sempurnakan manusia sehingga benar-benar hidup.

Dua puluh tiga tahun lamanya Nabi Muhammad SAW menyampaikan risalahnya, mewujudkan kaidah-kaidah itu di tengah-tengah kekuatan jiwanya, dengan contoh dan teladan, dengan amal dan jihadnya, dalam suka dan duka, sampai risalahnya tumbuh terwujud pada pribadi-pribadi mereka yang menerimanya. Risalah Nabi Muhammad SAW membina pribadi sebagai "sosial being" , mencetak umat yang mempunyai corak dan tujuan hidup yang pasti. Hidupnya berisikan amal shaleh, pancaran iman "kedua kakinya terpancang di bumi, jiwanya menjangkau langit". 

Marilah kita turuti, jejak Risalah yang membekas pada pribadi perseorangan, sebagai anggota masyarakat. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Dinar, bahwa pada suatu hari dia berjalan dengan Khalifah Umar bin Khattab R.A dari Madinah menuju ke Makkah. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang anak gembala, yang sedang turun dari tempat penggembalaan dengan kambing-kambingnya yang banyak. Khalifah ingin memuji sampai di mana anak gembala itu bersifat amanah. Antara keduanya terjadi percakapan sebagai berikut:

Khalifah: Wahai penggembala, juallah kepadaku  kambing itu ternakmu itu!
Gembala: Aku ini hanya seorang budak.
Khalifah: Katakanlah saja nanti kepada tuanmu, kambing itu telah dimakan serigala.
Gembala: Fa aina Allahu? kalau begitu di mana Allah?"

Amat pendek jawabannya "fa aina Allahu?" di mana Allah? Bagi khalifah Umar, dan bagi anggota jamaah muslimin waktu itu umumnya, jawab yang berupa pertanyaan sependek itu sudah cukup menggugah hati nurani meremangkan bulu. Ini sudah cukup memancing mereka kepada bunyi jawaban Risalah yang antara lain: Allah selalu beserta kamu dimanapun kamu berada, dan selalu melihat apapun yang kamu perbuat. QS Al-hadid 57 : 4.
LihatTutupKomentar

Iklan Tengah Artikel 2