-->

Iklan Atas Artikel

Fenomena Kata 'Anjay' hingga Pidana

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengeluarkan pernyataannya tentang penghentian penggunaan kata "Anjay" pada 29 Agustus 2020 lalu. Surat tersebut ditandatangani Ketua Umum Arist Merdeka Sirait  dan Dhanang Sasongko selaku sekretaris Jenderal. Danang menjelaskan dalam konteks khusus kata "Anjay" bisa mengandung unsur merendahkan dan kekerasan terhadap martabat seseorang.

Dengan demikian, judul surat tersebut menganjurkan untuk tidak menggunakan perkataan tersebut. Dari keputusan surat tersebut untuk mengingatkan tentang perkataan "Anjay", karena kata tersebut mempunyai konotasi yang negatif dan merendahkan martabat orang lain, serta perlakuan bullying sehingga orang yang mengatakan tersebut bisa dipidanakan.

Napitupulu sebagai Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) mengatakan jika kata "Anjay" digunakan akan berpotensi mengakibatkan tersinggung, hal ini bisa menjadi delik aduan tentang penghinaan. Lebih lanjut lagi dalam KUHP tindak penghinaan tersebut bertujuan untuk merendahkan martabat orang lain dengan cara sengaja dan diketahui secara umum.

Apa yang dianggap penting dalam konteks penggunaan kata "Anjay". Penegak hukum sebagai batu uji apabila ada seseorang yang mengadu terhadap perkataan tersebut. 

Saat diwawancarai Erasmus mengatakan penegak hukum bisa menguji perkataan "Anjay", jika diangkat menjadi kasus pidana, kemudian harus dihubungkan pada objek, konteks, dan posisi kasusnya. Menariknya jika kata "Anjay" tidak untuk diketahui secara umum, maka kata tersebut tidak bisa dikatakan merendahkan martabat seseorang dan unsur pidananya tidak berlaku.

Fenomena itu berlainan jika kata digunakan untuk konteks fenomena seperti contoh kata "jancuk" maupun "anying, tetapi jika digunakan untuk konteks, kata tersebut bisa memiliki makna keakraban."Anjay" merupakan kata pelesetan kata "Anjing", dengan perubahan bentuk dan bunyinya. Secara pragmatik suatu kata akan memiliki makna sesuai kamus atau berbeda konteks. kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Endang Aminudin Aziz selaku bagian dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan juga karena kata tidak ada muatan apapun sehingga dapat digunakan sesuai konteksnya. Fenomena "Anjay" harus dilihat sesuai konteksnya.

Penilaian makna tertentu harus memerhatikan unsur pengucapnya, mitra tutur, tentang apa yang dibicarakan, kapan dan di mana pembicaraan itu terjadi. Hubungan ini yang bisa memberikan pemaknaan berbeda dalam sebuah kata.


LihatTutupKomentar

Iklan Tengah Artikel 2