-->

Iklan Atas Artikel

Mengenang Satu Tahun Wafatnya BJ Habibie

Mengenang satu tahun wafatnya BJ Habibie dan sepenggal ceritaTepat satu tahun yang lalu, Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie (Habibie) meninggal dunia. Almarhum BJ Habibie meninggal pada tanggal 11 September 2019 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat, pada pukul 18:05 WIB.



Sore itu, bangsa Indonesia sedang berduka karena dikejutkan dengan pemberitaan  mengenai wafatnya BJ Habibie. Kabar tersebut disampaikan oleh cucunya yang bernama Melanie Subono. Melanie mengucapkan selamat tinggal atas duka kepada eyangnya, BJ Habibie.

Dokter Rumah Sakit Gatot Subroto memberikan keterangan bahwa BJ Habibie meninggal karena gagal jantung. Sebutan untuk Bapak teknologi tersebut sempat mengalami perawatan intensif selama hampir dua minggu di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Jakarta sebelum menghembuskan napas terakhir.

Setelah dinyatakan meninggal dunia, almarhum dibawa ke rumah duka di daerah Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Di lokasi pemakaman, banyak karangan bunga yang dipersembahkan untuk almarhum BJ Habibie dan sekaligus menggambarkan perasaan rakyat Indonesia yang merasa kehilangan. pemakaman itu penuh dengan pelayat. Jenazah BJ Habibie dimakamkan setelah keesokan harinya.

Pada hari berikutnya, atau tepatnya 12 September 2020, pukul 14.00 WIB, BJ Habibie dimakamkan di Pemakaman Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan. Mantan Menteri Riset dan Teknologi Indonesia dimakamkan tepat di samping istrinya yaitu Hasri Ainun Habibie.

Upacara pemakaman tampak khusu dan khidmat. Pemakaman ini dihadiri oleh Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) sebagai inspektur upacara. BJ Habibie merupakan anak bangsa yang mempunyai banyak prestasi dan merupakan salah seorang tokoh yang berpengaruh untuk Indonesia. Dia sangat cerdas dan romantis. Bahkan, kisah cintany anatara BJ Habibie dan istrinya menjadi inspirasi untuk sebuah film di Indonesia.

BJ Habibie banyak menempuh pendidikannya di luar negeri. Dari hasil pendidikannya tersebut, Habibie berhasil meraih gelar yang cukup banyak Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie. Habibie sempat menimba ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Sekolah Gouverments Middlebare. 

Dengan kecerdasannya itu Habibie mendapatkan beasiswa dari pemerintah, pada saat itu dipimpin oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno. Habibie muda kemudian melanjutkan pendidikannya di Jerman.

Untuk Indonesia, BJ Habibie, yang dikenal sebagai "Bapak Pesawat." Awal karirnya yang meroket adalah saat merancang proyek pesawat CN-235, bersama dengan insinyur dari perusahaan Spanyol CASA prototipe berhasil dikirimkan pada akhir 1983. Berhasil menyelesaikan proyek CN-235 dengan CASA. Habibie dan timnya IPTN yakin bahwa mereka juga mampu merancang pesawat mereka sendiri. Pesawat ini dirancang menggunakan baling-baling dengan kapasitas 50 penumpang dan dapat diperluas hingga 70 penumpang.

Proyek ini dinamai N-250. Dalam N-250 ketika dipasang sistem kendali (fly by wire). N-250 merupakan pesawat baling-baling pertama dengan sistem kontrol canggih. Habibie juga mengirimkan ratusan anak buahnya untuk pergi sekolah dan magang di perusahaan pesawat luar negeri.

Seminggu sebelum pesta emas kemerdekaan Indonesia pada tanggal 10 Agustus 1995 pukul 21:40 WIB, Presiden Soeharto memberikan nama Gatotkaca untuk pesawat N-250 terbang dari landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung.

Habibie juga dikenal sebagai orang yang memiliki kecerdasan yang luar biasa dengan IQ 160. Pria yang memiliki dua orang anak ini mempunyai karir  yang sangat cemerlang. Dia mulai belajar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954.

Lalu ia pergi belajar teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, RWTH Aachen di Jerman Barat di 1955 hingga 1965. Dia telah menjadi Menteri Riset dan Teknologi dari tahun 1978 sampai Maret 1998 dan menjadi Wakil Presiden ketujuh sejak tanggal 14 Maret 1998 sampai 21 Mei 1998.

Kisah asmara dengan istrinya, Hasri Ainun Habibie. Merupakan kisah cinta yang berasal sekolahnya. Keduanya saling memperhatikan di sekolah tinggi Kristen di Dago Bandung, Jawa Barat. Kemudian sempat hilang komunikasi setelah Habibie meneruskan belajar dan memutuskan untuk bekerja di Jerman. Ainun tetap setia berada di Indonesia dan terdaftar di Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia. BJ Habibie kemudian menikah dengan Ainun pada 12 Mei 1962 di Ranggamalela, Bandung.

Ainun dan Habibie diberkati dengan dua orang anak, yaitu Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. Ainun meinggal dunia pada tanggal 22 Mei 2010 akibat kanker serviks. Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dan makam keduanya berdampingan.

Tak banyak yang tahu masa-masa muda Habibie. Dalam bukunya yang berjudul ‘Rudy', kisah karya visioner Masa Muda Gina S Noer menyebutkan saat masa muda Habibie. Berikut kisah BJ Habibie saat masih muda:

1. Hobi Membaca Buku Belanda

BJ Habibie sejak kecil sering bertanya apa ayahnya. Ayahnya selalu menjawab pertanyaan anaknya dengan bahasa yang dapat dimengerti. Untuk menjawab rasa ingin tahu anaknya, ayahnya yang bernama  Alwi Abdul Jalil Habibie selalu membelikan buku untuk Habibie kecil. Jadi, pada usia 4 tahun Habibie sudah mahir membaca.

Itu sebabnya buku menjadi cinta pertama BJ Habibie. Dia senang membaca ensiklopedia dan buku-buku  cerita. Buku koleksi karya-karya dari Leonardo Da Vinci dan sejarah fiksi ilmiah Jules Verne merupakan buku favorit Habibie. Nah, semua buku koleksinya dalam bahasa Belanda dan memiliki kata-kata yang sulit,  tidak bisa dipahami untuk seusia Rudy. Habibie selalu bertanya tentang arti kata yang tidak dipahaminya. Jadi orang tuanya membelikan kamus bahasa Belanda. Keluarga juga selalu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Belanda.


2. Nama Panggilan Rudy

Masa kecil BJ Habibie dipanggil Rudy oleh keluarganya. Guru ngaji BJ Habibie sering memanggil dengan sebutan tersebut. Untuk mengeksplorasi agama, ayahnya dan semua anak-anak belajar agama dari Hasan Alamudi yang merupakan seorang guru ngaji di Pare Pare. Hasan Alamudi selalu memanggil nama Rudy pada Habibie.


3. Joki Hebat

Tidak hanya kecerdasan yang dimilikinya, Habibie juga merupakan penunggang yang sangat berbakat dan lincah, mampu saat mengendalikan kuda balap kelas satu. Saat menunggangi kuda Habibie menjadi tangguh dan garang. Karena usianya masih belia, ayahnya khawatir tentang cara bagaimana Habibie mengendalikan kuda. 

Ayahnya menunjuk Teddy Boekoesoe menjadi co-pilotnya. Tapi ternyata Habibie lebih pandai daripada Teddy, bahkan Teddy pernah dilempar oleh kudanya sampai ia tersandung dan hampir mengalami kecelakaan yang serius. Ayahnya langsung membawa Teddy ke rumah sakit.


4. Kompak dengan Adiknya

Tingkah laku BJ Habibie berbeda dengan adiknya, Fanny. Usia Mereka hanya berbeda satu tahun. Habibie dan Fanny merupakan sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dengan karakter yang berbeda itu, tetapi mereka selalu kompak satu sama lain. Fanny merupakan anak bandel. 

Dia bisa menjalani kehidupannya karena cerdas dalam menghadapi perilaku manusia. Sementara Rudy dapat menghadapi kehidupan dengan bidang ilmu-ilmu eksakta. 

Jika Fanny dan Habibie ada sesuatu yang harus dibeli.  Hail Ini terus berlanjut sampai mereka dewasa. ketika Fanny pelantikan sebagai Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Habibie memberi kado jam yang sama dengan miliknya. 

Suatu hari, Fanny sibuk dengan pekerjaannya di Tanjung Priok. BJ Habibie mengatakan harus segera datang karena keadaan darurat. Fanny buru-buru dan ia menyaksikan saat Habibie berdiam diri di sisi jalan. Ternyata kunci mobilnya tertinggal di dalam dan Fanny langsung mengambil obeng. 

Tapi Habibie protes karena jika kunci rusak karena harganya mahal. Fanny Habibie akhirnya menyarankan untuk memecahkan kaca depan dengan batu. ide yang akan muncul dari Fanny Habibie dan siapa yang akan melaksanakannya. Konsep inilah yang telah diadopsi oleh mereka sejak kecil.

LihatTutupKomentar

Iklan Tengah Artikel 2