-->

Iklan Atas Artikel

Cara Mudah Membuat Puisi untuk Pemula

Cara Mudah Membuat Puisi untuk Pemula - Puisi adalah salah satu genre karya sastra yang hingga saat ini masih banyak disukai semua kalangan. Terkadang bahasa yang digunakan dalam puisi romantis dan indah, hal ini menjadi alasan puisi bisa menarik perhatian seseorang.  Puisi tidak hanya dipakai untuk menyatakan perasaan kepada seseorang, tetapi puisi merupakan luapan emosi seseorang yang bisa dituangkan melalui tulisan, baik untuk sahabat, kerabat, orang tua, dan alam.


Cara Mudah Membuat Puisi untuk Pemula


Bagi Anda yang ingin belajar puisi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, berikut 7 cara dalam membuat puisi, untuk Anda yang baru saja berkenala dengan puisi.

Banyak Membaca Buku Sastra

Membaca merupakan cara terbaik dalam menentukan tema puisi, dari membaca sastra banyak ide-ide yang didapat dan memperkaya referensi sehingga bisa menambah inspirasi bagi Anda yang ingin membuat puisi.

Tidak hanya inspirasi yang didapat, dengan membaca banyak buku sastra kemampuan dan kepekaan terhadap lingkungan akan lebih terasah seperti berdiskusi dengan orang-orang sekitar. Hal ini akan memunculkan ide dan inspirasi ketika Anda ingin mulai menulis puisi.

Menentukan Tema

Memang dalam membuat puisi faktor penting sekaligus unsur dalam puisi ini tidak bisa dilewatkan seperti menentukan tema atau topik yang ingin disampaikan. Sebelum Anda membut puisi tentukan tema terlebih dahulu yang akan diangkat dalam puisi tersebut.

Contohnya ketika Anda ingin menulis puisi dengan tema alam, maka kembangkan terlebih dahulu cerita di dalam puisi tersebut mengenai alam sehingga puisi yang dibuat lebih terarah membicaran tentang alam.

Memilih Pilihan Kata atau Diksi dan Rima

Salah satu bentuk keindahan dalam puisi adalah diksi dan rima. Anda harus memerhatikan diksi dan rima. Diksi adalah pilihan kata yang selaras. Kata-kata yang akan dipilih mempunyai makna setiap bait dalam puisi yang akan ditulis, kemudian selalu memerhatikan rima atau disebut dengan pengulangan bunyi baik di awal maupun akhir bait puisi sehingga ketika dibaca akan terdengar bunyi yang indah dan serasi.

Belajar Merangkai Kata

Setelah Anda mendapatkan tema dan bisa menentukan diksi yang dipilih, Anda harus menulis dan mengungkapkan segala sesuatu yang sedang kamu rasakan , karena puisi itu menulis dengan melibatkan perasaan, kemudian tuliskanlah dan ekspresika apa yan ada dalam pikiran dan hati secara jujur.

Menulis Judul yang Menarik

Cara membuat puisi selanjutnya adalah memilih judul puisi yang tepat. Pada umumnya Anda bisa menulis puisi sebelum menulis puisi. Sebaiknya bagi Anda yang masih pemula menulis puisi terlebih dahulu, kemudian memilih judul yang menarik. Cara ini cukup mudah yaitu dengan membaca berulang kali puisi yang Anda buat.

 Mengoreksi Puisi

Cara ini merupakan cara terakhir yaitu melakukan pengendapan atau mendiamkan puisi terlebih dahulu sehingga ada bahan untuk mengoreksi tulisan puisi yang Anda buat. Pada tahap akhir  Anda bisa membaca berulang kali setiap bait puisi yang telah ditulis sehingga Anda bisa menemukan kesalahan-kesalahan dalam puisi.


Beberapa Contoh Puisi


Tema: Religi

Judul: Separuh Imanku tuk Kembali


Rahim yang semula tak dilumuri dengan fana

Turunnya kasih bak pemuda pembawa cerita

Tangannya masih lembut menyuapkan susu yang di balas tuba

Beranjak menjadi manusia pembawa dosa

 

Kemerlap di balik jendela-jendela malam terlelap

Membayangi diri dengan anggota tanpa sayap

Suara firman-Nya ditertawakan, ha..ha.. ha.. . karena suasana itu sangat gelap, terlalu gelap

Hingga puncak paras suaranya tak sanggup menguap

 

Kini lusuh luluh lantah tak sanggup mengayuh

Suara asing yang dulu kusangkakan dengan rapuh

Kebenaran tetaplah kebenaran orang terdahulu menjaga butir iman dengan kukuh

Dasar!!! Imanku saja yang rapuh

 

Pertanyaan ini sangat payah disaat kembali mengulang

Menitiskan air mata mengingat manusia agung berjuang

Di hadapanmu aku menunduk, menunduk, serapuh-rapuhnya, sedalam-dalamnya  Aku ingin pulang…

Rabb… ucapan lisan ini tak berbentuk dan berlinang

 

Kepadamu aku telanjang dari mata-mata kedurhakaan

Kupasrahkan seluruh raja hati untuk bertahan

Ampunilah siasat-siasat menderu dipunggung penghinaan

Hanya kepadamu rahmat dari pengharapan, dikucurkannya  pintu pertaubatan.

 

Tema:  Aku dan Corona

Judul: Bergeletak di Atas Tentaranya

 

Fajar saat itu sedang mendengar banyak orang dari pelosok

Sahutan ayam yang tak tahu malu seperti biasanya

Cacing bergeliat terusik terinjak manusia sombong

Manusia masih mendengkur karena terlalu lalai

 

Mata-mata melolong melihat media cerita seperti menonton opera

Kuambil pena karena hati membisik penasaran itu

Mayat orang beriman dan berdosa menyatu dalam perangkap makhluk Tuhan

Sekali lagi aku penasaran, sekalipun tak bisa ku eja kalimat dari seberang


Kendaraan lalu lalang, dan kuambil lagi pena it

Apakah ini? Tak seorangpun terlihat, mengendap-ngendap di balik topeng mulutnya

Jaga pandangan, dan menjaga segalanya.

Pria gagah di balik surau kemudian berbisik ini dari negeri segala ilmu

Lari sekencang-kencangnya


Kegagalan jika tentara itu merenggutnya lagi

Anak-anak yang bersandal jepit hanya tersenyum

Hatinya tak merisaukan karena itulah ulahmu

Janganlah takutmu kau simpan dibalik perutmu


Pesan itu datang karena isyarat untuk sahabat

Pengingat untuk yang lupa karena syariat itu hakikat

Corona dari seberang kian melemah

Seorang tentara itu hanya pembawa pesan

Aku pembawa kabar baik

Selamatkan untukmu, Tanganmu, Kakikumu, Lisanmu

Dan Hatimu

 

Judul: Corona di Negeriku

Waktu itu langkah kaki manusia penuh gelak tawa

sedangkan, orang yang berpakaian imamah

sedang memohon ampun

Anak kecil bermain dengan sebayanya


Orang tua renta mengayuh sepedanya

Kami tahu, sabdamu di hamparan mata yang melolong

Tersiar kabar dari negeri seberang

Berhembus kami datang


Dan kami mengatakan tak kan peduli

dengan membusungkan dadanya

Tawa itu tak bertahan lama

Sang tamu membuka wajahnya

Inilah kami


Inilah kami yang akan menghampirimu

Tawa musnah seketika

Tatkala kesombongan runtuh melihat tamunya

Napas tersengal seakan nyawa direnggut dari pasukannya


Tak perlu kusebutkan apa itu?

apa itu? dan apa itu?

Mata-mata yang memandang sontak menutup

Jendela rumahnya rapat-rapat


Mengunci pintu rumahnya

Ah... apa yang terjadi?

Teriakan doa orang suci dan pendosa pun

dalam genggaman


Runtuh satu per satu

Ana kecil memegang erat tangan ibunya

Aku takut!!!

Sepuluh

Seratus

Seribu

Bahkan sepuluh ribu kini terjadi


Sementara penguasa masih menyimpan 

senyum kecilnya

manuasia tak bernyawa berhamburan

menghiasi kota


Tak hanya menjadi kota mati

dan desa pun mati

semoga ini cepat berlalu. Aamiin...

 


 

 

 

 

 

 

LihatTutupKomentar

Iklan Tengah Artikel 2