-->

Iklan Atas Artikel

Etika Berbahasa Mencerminkan Budaya Bangsa

Etika Berbahasa Cermin Budaya - Pernahkah Anda menyadari setiap perkataan yang keluar dari mulut tentang apa yang dibicarakan, orang lain di sekeliling akan mengalihkan pusat perhatiannya kepada Anda? Apakah Anda menyadari dari setiap penyampaian dan pemilihan kata yang Anda lontarkan, ternyata mereka akan mengetahui sedikitnya mengenai kepribadian Anda.

Pertanyaan tersebut muncul karena merupakan salah satu faktor hubungan etika berbahasa dengan kebudayaan, dan tentunya masih banyak contoh yang kita bisa temukan dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan hubungan tersebut.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia etika merupakan ilmu yang dipelajari mengenai baik dan buruk serta hak dan kewajiban seseorang. Selain itu, etika diartikan sebagi lambang bunyi yang bersifat arbitrer, yang digunakan oleh masyarakat seperti berinteraksi, berkomunikasi, bekerja sama, dan mengindentifikasi dirinya.

Menurut Kentjaraningrat etika dimaknai sebagai suatu gagasan, tindakan, dan hasil karya seseorang. Dari definisi-defini tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa setiap penggunaan bahasa dilakukan oleh personal atau kelompok untuk berkomunikasi dapat membentuk sebuah budaya yang bisa memberikan penilaian berdasarkan etika personal atau kelompok dalam berbahasa.

Penulis bisa menggambarkan dua contoh mengenai etika dalam berbahasa yang tidak bisa dipisahkan dengan budaya suatu wilayah atau bangsa. Pertama penggunaan bahasa dari pemakaian etika berbahasa yang tidak benar atau keliru. Contoh tersebut bisa terlihat dari kian maraknya mengenai perkelahian atau tawuran pelajar, baik tingkat SMP, SMA, ataupun perguruan tinggi sehingga bisa menimbulkan budaya yang bersifat negatif.

Permasalah tawuran tersebut bisa terjadi karena saling mengejek. Ejekan tersebut merupakan salah satu ujaran atau ucapan bersifat negatif sehingga bisa menimbulkan permasalahan antara yang berbicara dengan yang ditutur. 

Kalau dikaji lebih dalam ejekan tersebut bersumber dari penggunaan bahasa yang negatif. Oleh karena itu, sering kali ejekan berpotensi seseorang merasa dilecehkan sehingga memunculkan perdebatan, lebih parah lagi bisa mengakibatkan aksi yang kurang menyenangkan. 

Kedua, contoh penggunaan etika berbahasa yang baik dan benar. Contoh tersebut bisa kita jumpai dari kunjungan para turis luar negeri baik internasional maupaun domestik yang berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta merupakan sebuah wilayah atau daerah yang masyarakatnya menjaga terhadap keaslian budayanya. Apa hubungannya antara Yogyakarta dengan etika berbahasa?

Dari dulu Yogyakarta dikenal dengan istilah kota pelajar, karena di tempat tersebut banyak berbagai macam institusi pendidikan. Dengan penghargaan inilah masyarakat Yogyakarta membiasakan diri selalu menggunaan bahasa yang baik dan benar ketika dalam berkomunikasi. 

Mereka selalu bisa memposisikan dirinya dalam pemakaian bahasa dan berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini yang membuat para turis merasa nyaman ketika berada  di sana. Di samping Yogyakarta sebagai magnet budaya, masyarakat Yogyakarta dikenal ramah terhadap siapapun. Tidak terlepas dari pemakaian etika berbahasa yang baik dan benar oleh masyarakat Yogyakarta di sana. Hal tersebut merupakan salah satu contoh yang membuat Indonesia dikenal dengan budaya masyarakatnya yang ramah terhadap orang lain sehingga citra Indonesia di mata internasional dikenal baik.



LihatTutupKomentar

Iklan Tengah Artikel 2